Ilustrasi Korupsi
Oleh : APPRA DOMPU
WD-OPINI-COM-Kegagalan program rumput laut didompu, dalam upaya mendukung kesejahteraan masyarakat, bukan tanpa sebab. Melainkan diduga program ini sengaja digagalkan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlut), kabupaten dompu beserta CV. Pemenang tender, akibat anggaran pengadaan pembelian bibit diduga banyak yang dikorupsi.

Gelombang, dan cuaca ekstrim, ditambah pestisida menjadi alasan pihak dinas, gagalnya rumput laut yang ditanam oleh petani di desa kwangko, napa, kecamatan manggelewa, dan desa pekat, kecamatan pekat, kabupaten dompu.

Padahal jauh sebelum itu atau semenjak tahun 2015, sampai 2018, penanaman rumput laut tetap saja gagal, tanpa ada korelasi cuaca ekstrim yang disebutkan oleh dinas.

Bukan masalah pestisida atau cuaca ekstrim, melainkan bibit yang dibeli diduga bibit mati yang diambil dari kabupaten sumbawa besar.

Secara ekonomis merugikan petani rumput laut, lain pihak menguntungkan Dinas.

Terungkapnya kasus dugaan korupsi rumput laut, melalui hasil investigasi Lembaga Aliansi Pemuda Perjuangan Rakyat (APPRA) DOMPU, di Desa Kwangko, dan Desa Napa, Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu tahun 2016.

Alih-alih ingin menyukseskan program, anggaran diduga banyak masuk kantong pribadi. Dampak yang diterima oleh petani adalah program selalu gagal setiap tahun.

Meski mengetahui gagal berturut-turut selama 6 (enam) tahun, pihak dinas legowo menikmati kegagalan ini tanpa sikap evaluasi dan perubahan program yang bermanfaat untuk petani rumput laut didompu.

Hingga kini, banyak petani rumput laut merasa trauma menanam kembali rumput laut karena gagal, meski dinas telah berupaya memberikan pandangan kepetani, namun ditolak mentah-mentah oleh petani rumput laut.

Fenomena kegagalan rumput laut didompu, seolah menjadi misteri yang sulit diungkap oleh Kejari Dompu. Padahal dalam laporan APPRA DOMPU, tertanggal 31 mei tahun 2018, secara jelas menyebutkan bahwa gagalnya rumput laut akibat dugaan korupsi.

Mulai dari pembelian alat sarana dan parasana kelengkapan budidaya rumput laut, pengadaan sampan pemeliharaan, sampai pembelian bibit rumput laut yang diduga mati sebelum ditanam oleh petani.

Yang berimplikasi pada dugaan kerugiaan negara miliran rupiah, selama 6 (enam) tahun. Namun yang kami laporkan hanya dugaan korupsi pengadaan bibit rumput laut tahun 2016 saja.

Untuk itu, kami meminta Kejari Dompu, untuk mengungkap secara serius laporan dugaan korupsi rumput laut di tiga desa dikabupaten dompu, yakni desa kwangko, desa napa, kecamatan manggelewa, dan desa pekat, kecamatan pekat, sesuai data laporan kami APPRA DOMPU.

Hal ini guna memastikan kepastian hukum bagi kami pelapor, dan terlapor yang hidup dinegara kesatuan republik indonesia, yang adil, makmur, dan sentosa, tanpa pandang bulu.

Dengan dugaan kerugian negara tahun 2016, lebih kurang 900 juta rupiah.

Terlapor WN kepala dinas Kelautan dan perikanan (Diskanlut), kabupaten dompu beserta dua CV. Pemenang tender, atas nama CV. Kharisma dan CV. Jaya Mandiri (*).

Aliansi Pemuda Perjuangan Rakyat (APPRA) Dompu, merupakan Lembaga yang melaporkan kasus dugaan korupsi pengadaan bibit rumput laut didompu tahun Anggaran 2016, ke Kejari Dompu, pada tanggal 31 mei 2018 lalu, hingga kini belum ada titik terang. 

Posting Komentar

Warta Dompu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-2mBCS3yYrBk/Wj059R-fHEI/AAAAAAAAAOM/PW-QOSxL99EVnjuFLLytXHTU-EDGkcp-ACLcBGAs/h120/WD.png} Harian dompu untuk indonesia, menyajikan berita lokal, nasional maupun internasional terkini {facebook#https://www.facebook.com/wartadompu} {twitter#https://twitter.com/wartadompu} {google#https://plus.google.com/u/0/111968712748616791463} {linkedin#https://www.linkedin.com/in/wartadompu/} {instagram#https://www.instagram.com/wartadompu}
Diberdayakan oleh Blogger.