Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi NTB, merilis data terbaru jumlah penduduk miskin pada periode Maret hingga September 2019.  Pada Maret 2019, jumlah penduduk miskin di NTB mencapai 735,96 ribu jiwa atau sebesar 14,56 persen dari jumlah penduduk. Sementara, berdasarkan data September 2019, penduduk miskin NTB turun menjadi 705,68 ribu jiwa (13,88 persen).  Kepala BPS Provinsi NTB, Suntono, menjelaskan, penurunan angka kemiskinan NTB sebesar 0,68 persen. Capaian ini, menempatkan NTB sebagai provinsi dengan laju penurunan kemiskinan tercepat kedua di Indonesia.  “Pada September 2019, jumlah penduduk miskin pada daerah perkotaan di NTB tercatat sebesar 365,05 ribu orang atau 14,85 persen. Sementara, penduduk miskin di daerah perdesaan NTB sebesar 340,63 ribu orang atau 12,97 persen,” kata Suntono, di kantor BPS NTB, Rabu, (15/1/2020).  Suntono menambahkan, capaian menggembirakan yang diraih Provinsi NTB ini dipicu oleh sejumlah faktor. Beberapa faktor tersebut antara lain, keberhasilan dalam mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok di NTB. Data BPS menunjukkan, hingga Desember 2019, inflasi di NTB hanya mencapai 1,8 persen. Angka ini jauh lebih rendah ketimbang target inflasi pemerintah di angka 3,5±1 persen.  Faktor lain adalah terjaganya, Nilai Tukar Petani (NTP) NTB. Sebagai daerah dengan mayoritas penduduk bekerja di sektor pertanian, terjaganya NTP ini membuat konsumsi penduduk juga terkatrol.  “NTP NTB naik 4,16 persen dalam satu tahun. Hal ini mengindikasikan keberhasilan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa dan masyarakat pertanian NTB,” ujarnya.  Faktor lain kata Suntono, pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB juga turut memberikan andil dalam menekan kemiskinan. BPS mencatat, PDRB NTB selama setahun terakhir mencapai Rp120 triliun. Hingga triwulan ketiga 2019, PDRB NTB tumbuh sebesar 5,41 persen.  “Penyaluran dana desa dan kemajuan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana gempa bumi menjadi salah satu penyumbang signifikan dalam pertumbuhan PRDB NTB,” Jelasnya.(*)
Potret kehidupan masyarakat miskin di NTB. Desa Taloko, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima, Propinsi Nusa Tengara Barat (NTB), yang belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari Dana Desa. Wai Hama hidup sebatang kara, menempati gubuk reot, berharap ada bantuan Rehabilitasi Rumah Tak Layak Huni dari Pemerintah. Di usia yang sudah semakin tua (80) Wai Hama sering mengalami sakit-sakitan. Begitupun gubuk reotnya yang nyaris roboh. Selain Wai Hama, diduga Desa Taloko, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima, Masih banyak terdapat warga miskin lainnya, yang belum memperoleh kehidupan yang layak dari pemerintah. /Foto: LintasRakyatNTB.


MATARAM,WARTADOMPU.com- Badan Pusat Statistik (BPS), Provinsi NTB, baru saja merilis data terbaru mengenai jumlah penduduk miskin pada periode Maret hingga September 2019 di NTB.

Pada Maret 2019, jumlah penduduk miskin di NTB mencapai 735,96 ribu jiwa atau sebesar 14,56 persen dari jumlah penduduk. Sementara, berdasarkan data September 2019, penduduk miskin NTB turun menjadi 705,68 ribu jiwa (13,88 persen).

Kepala BPS Provinsi NTB, Suntono, menjelaskan, penurunan angka kemiskinan NTB sebesar 0,68 persen. Capaian ini, menempatkan NTB sebagai provinsi dengan laju penurunan kemiskinan tercepat kedua di Indonesia.

“Pada September 2019, jumlah penduduk miskin pada daerah perkotaan di NTB tercatat sebesar 365,05 ribu orang atau 14,85 persen. Sementara, penduduk miskin di daerah perdesaan NTB sebesar 340,63 ribu orang atau 12,97 persen,” kata Suntono, di kantor BPS NTB, Rabu, (15/1/2020).

Suntono menambahkan, capaian menggembirakan yang diraih Provinsi NTB ini dipicu oleh sejumlah faktor. Beberapa faktor tersebut antara lain, keberhasilan dalam mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok di NTB. Data BPS menunjukkan, hingga Desember 2019, inflasi di NTB hanya mencapai 1,8 persen. Angka ini jauh lebih rendah ketimbang target inflasi pemerintah di angka 3,5±1 persen.

Faktor lain adalah terjaganya, Nilai Tukar Petani (NTP) NTB. Sebagai daerah dengan mayoritas penduduk bekerja di sektor pertanian, terjaganya NTP ini membuat konsumsi penduduk juga terkatrol.

“NTP NTB naik 4,16 persen dalam satu tahun. Hal ini mengindikasikan keberhasilan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa dan masyarakat pertanian NTB,” ujarnya.

Faktor lain kata Suntono, pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB juga turut memberikan andil dalam menekan kemiskinan. BPS mencatat, PDRB NTB selama setahun terakhir mencapai Rp120 triliun. Hingga triwulan ketiga 2019, PDRB NTB tumbuh sebesar 5,41 persen.

“Penyaluran dana desa dan kemajuan dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana gempa bumi menjadi salah satu penyumbang signifikan dalam pertumbuhan PRDB NTB,” Jelasnya.(*)

Posting Komentar

Warta Dompu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-2mBCS3yYrBk/Wj059R-fHEI/AAAAAAAAAOM/PW-QOSxL99EVnjuFLLytXHTU-EDGkcp-ACLcBGAs/h120/WD.png} Harian dompu untuk indonesia, menyajikan berita lokal, nasional maupun internasional terkini {facebook#https://www.facebook.com/wartadompu} {twitter#https://twitter.com/wartadompu} {google#https://plus.google.com/u/0/111968712748616791463} {linkedin#https://www.linkedin.com/in/wartadompu/} {instagram#https://www.instagram.com/wartadompu}
Diberdayakan oleh Blogger.