Pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno boleh saja memenangkan Pilkada DKI Jakarta putaran kedua beberapa waktu yang lalu. Mereka berhasil mengalahkan pasangan Ahok dan Djarot dengan selisih suara yang lumayan besar. Tapi, perjuangan Anies dan Sandi belum selesai. Mengalahkan Ahok dan Djarot bukan sebuah akhir tapi merupakan sebuah awal. Perjuangan sebenarnya adalah memperbaiki wajah DKI Jakarta untuk lima tahun kedepan.

Selama ini kita ketahui, DKI Jakarta dibawah kepemimpinan Ahok dan Djarot memiliki sejumlah kemajuan. Baik dalam urusan birokrasi maupun pembangunan. Nah, nanti kita akan lihat bersama. Apakah DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Anies dan Sandi menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Tapi jujur, dari kaca mata saya, saya melihat dan mengamati bahwa menjadi Anies, gubernur DKI Jakarta setelah Ahok itu nggak enak. Kenapa saya bilang seperti itu? Karena paling tidak, ada dua hal yang membuatnya demikian.

Pertama, akan selalu dibandingkan dengan Ahok. Kedua, di tagih janji sebelum resmi dilantik sebagai gubernur. Ketiga, dikuliti habis-habisan oleh penulis seword. Mari kita bedah satu per satu.

Di bandingkan dengan Ahok 


Pernah dengan kalimat ini “Tidak ada satupun wanita didunia ini yang suka dibandingkan dengan wanita lain apalagi dibandingkan oleh pria yang diam-diam disukainya”. Memang, secara khusus kalimat tersebut tidak ada korelasinya sama sekali dengan Anies tapi kalau kita mau menyelami nya lebih dalam, apa yang dirasakan oleh wanita tersebut, nantinya akan dirasakan juga oleh Anies.

Tidak ada satupun gubernur didunia ini yang suka kinerjanya dibandingkan dengan kinerja gubernur sebelumnya apalagi secara kasat mata kinerja gubernur sebelumnya terlihat lebih baik dari kinerjanya.

Percaya lah, hal ini akan terjadi. Dan itu akan dialami oleh Anies. Lambat laun akan membuat Anies gerah. Walau bagaimana pun, perbandingan seperti ini akan menjadi lumrah. Ahok telah memperbaiki birokrasi, apakah Anies bisa melakukan lebih dari itu, paling tidak menjaga yang sudah ada. Kalau tidak bisa, siap-siaplah kuping menjadi panas mendengar kata-kata pedas warga Jakarta. Dan disudut lain, mungkin Ahok akan berkata dalam hati “Masih enak zaman gue kan?” Hahaha.

Ahok tidak akan sejahat itu. Tertawa diatas penderitaan orang lain. Walaupun Anies pernah menjadi lawannya di Pilkada DKI Jakarta yang lalu, saya percaya demi masyarakat ibukota, Ahok siap jika dimintai saran dan masukannya.

Saya juga berharap, Anies bisa lebih baik lagi memimpin ibukota dibandingkan Ahok. Bukan kenapa-kenapa, kalau Anies gagal yang disalah bukan dia tapi Jokowi. Memang, semuanya terasa lebih enak kalau melemparkan kesalahan pada Jokowi.

Di tagih janji sebelum resmi dilantik 

Waktu diumumkan bahwa pasangan Anies dan Sandi yang menang beberapa waktu lalu, didunia maya saya lihat banyak orang yang langsung menagih janji Anies dan Sandi. Hahaha

Kalian ini bagaimana sih? Yang sabar kenapa. Anies saja belum resmi dilantik sudah di tagih janjinya segala. Bagaimana beliau bisa mewujudkan janji-janjinya, kursi gubernur saja belum sempat di duduki. Sabar dan lihat saja sambil ngopi, apa yang akan dilakukan Anies dan Sandi.

Tapi saya jadi berfikir-fikir, kenapa hal ini bisa terjadi? Setelah saya amati lebih lanjut, saya mengerti kenapa masyarakat buru-buru menagih janji Anies dan Sandi. Ini tidak lain dan tidak bukan karena program Anies dan Sandi yang luar biasa. Salah satunya, rumah dengan DP 0%. Nah, itu nanti realisasi nya bagaimana? Itu kira-kira yang ingin diketahui masyarakat Jakarta secepatnya.

Di kuliti habis-habisan oleh penulis seword 

Penulis-penulis seword adalah orang-orang “terpilih”. Maksudnya, tidak semua orang bisa jadi penulis di seword. Hanya orang yang lolos seleksi saja yang akan diberikan hak akses. Nah, terbayangkan kalau penulis-penulis “terpilih” tersebut menguliti seseorang secara habis-habisan? Salah satu orang yang di kuliti habis-habisan adalah Anies Baswedan.

Penulis seword menguliti Anies Baswedan bukan karena benci tapi karena ada “apa-apanya” dalam sosok Anies. “apa-apanya” itu silahkan anda terjemahkan dengan “bahasa” anda masing-masing.

Itu tadi tiga hal yang membuat Anies, gubernur DKI Jakarta setelah Ahok itu nggak enak. Tapi kalau mau, anggap saja tulisan ini sebagai masukan dan motivasi untuk Anies agar ke depannya bisa membuat yang nggak enak tersebut menjadi enak.

Begini, dalam urusan birokrasi, Ahok telah membuat birokrasi di Jakarta lebih baik. Anies tinggal mempertahankannya saja dan memperbaiki apa yang kurang. Tidak perlu di utak atik lagi. Jadi, tidak membuang-buang banyak waktu.

Selain itu, Ahok sering digambarkan sebagai gubernur “arogan” karena ucapan-ucapannya yang “keras”. Anies bisa menutupi “kekurangan” Ahok tersebut dengan kepribadiaannya yang selama ini identik dengan kata “santun”.

Intinya, apapun yang telah dilakukan Ahok sebelumnya, jika itu baik pertahankan, jika ada yang kurang diperbaiki. Tidak perlu malu untuk “mengakui”.

Posting Komentar

Warta Dompu

{picture#https://lh3.googleusercontent.com/-2mBCS3yYrBk/Wj059R-fHEI/AAAAAAAAAOM/PW-QOSxL99EVnjuFLLytXHTU-EDGkcp-ACLcBGAs/h120/WD.png} Harian dompu untuk indonesia, menyajikan berita lokal, nasional maupun internasional terkini {facebook#https://www.facebook.com/wartadompu} {twitter#https://twitter.com/wartadompu} {google#https://plus.google.com/u/0/111968712748616791463} {linkedin#https://www.linkedin.com/in/wartadompu/} {instagram#https://www.instagram.com/wartadompu}
Diberdayakan oleh Blogger.